Lebih dekat dengan Elsevier: pemimpin global di bidang publikasi ilmiah

Bagikan

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia hari ini dipenuhi oleh satu nama: Scopus. Banyak yang tidak sadar bahwa nama produk tersebut merupakan milik dari perusahaan penerbit raksasa di Belanda.

Ya, nama perusahaan itu adalah Elsevier. Lewat esai ini, kita membahasa sejarah dan perkembangan Elsevier hingga membentuk cara kita berinteraksi dengan sumber-sumber ilmiah hari ini.

Dari Penerbit Kecil di Amsterdam

Terinspirasi dari keluarga penerbit legendaris di abad ke-16, Jacobus George Robbers mendirikan Elsevier di Amsterdam, Belanda, pada 1880. Cakupan produk dari penerbit ini pada awalnya terbatas pada sumber-sumber di bidang medis dan ilmiah.

Ekspansi besar terjadi setelah Perang Dunia II. pada saat itu, peningkatan kebutuhan pada buku dan jurnal medis memberikan keuntungan besar bagi penerbit tersebut. Dari sini, mereka mendapatkan modal untuk merambah bidang sains.

Bisa dikatakan, periode 1945-1960-an adalah masa ekspansi Elsevier dalam skala besar. Penerbit ini tidak segan mengakuisisi junal-jurnal bergengsi di dunia, seperti The Lancet.  Pada 1994, Elsevier diakuisisi oleh Reed Elsevier (sekarang RELX).

Akuisisi tadi memperkuat posisi perusahaan ini sebagai pemimpin di dunia dalam bidang publikasi temuan-temuan ilmiah. Dua tahun berikutnya, 1996, Elsevier meluncurkan platform digital yang diberi nama Science Direct.

Kita akan membicarakan ScienceDirect pada tulisan berikutnya. Untuk sementara, kita fokus pada Elsevier.

Memasuki abad ke-21, Elsevier semakin memperkuat integrasi mereka dengan dunia digital lewat perilisan fitur akses terbuka (open access) dan penanaman teknologi kecerdasan buatan ke dalam produk digital mereka.

Singkat cerita, sejarah panjang dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan tren media merupakan kunci utama bagi Elsevier menjadi pemimpin dunia di pasar publikasi saintifik.

Visi, Misi, dan Yayasan Elsevier

Elsevier mengklaim bahwa mereka ingin meningkatkan kemajuan manusia dengan memberikan dukungan informasi mutakhir dalam pengambilan keputusan di bidang sains dan layanan kesehatan. Untuk itu, mereka menjalin kerjasama dengan komunitas yang mereka layani.

Seolah tidak ingin terjebak dalam pola yang sepenuhnya bisnis, Elsevier turut meluncurkan program amal lewat Elsevier Foundation. Perusahaan ini mengklaim telah berkiprah secara sosial selama 20 tahun terakhir lewat mekanisme kemitraan di 53 negara.

Indonesia merupakan salah satu negara di mana Elsevier melibatkan diri dalam sejumlah program sosial. Salah satunya adalah pendanaan bagi platform informasi HIV, tanyamarlo.id.

Screenshot

Produk Elsevier

Elsevier sejatinya memiliki puluhan produk aplikasi yang mendukung penelitian dan komunitas akademik. Beberapa yang populer, di antaranya, adalah Science Direct, Scopus, Mendeley, Clinilcal Key, dan Open Access.

Sebagai pemimpin dalam dunia publikasi saintifik global, Elsevier, merangkum hampir 3000 jurnal yang menyediakan fitur akses terbuka. Kabar baiknya, lebih dari seperempat dari jumlah tersebut, 890 jurnal, menyediakan akses terbuka secara penuh. Dengan kata lain, artikel-artikel jurnal ilmiah yang terbit pada jurnal tersebut dapat diunduh secara gratis.

Memang, sebagian besar akses publikasi Elsevier masih mengharuskan kita membayar dengan jumlah yang tidak sedikit untuk mahasiswa dan dosen di negara berkembang, seperti Indonesia. Artikel tentang makanan khas Palembang, pempek, dari Reggie Surya dkk., misalnya, tidak bisa kita baca secara gratis. Untuk membaca artikel ini kita harus membayar 55 dolar.

Sejumlah kampus terkemuka di Tanah Air memang telah melanggan sejumlah produk Elsevier untuk komunitasnya. Nah, jika kamu ingin mengakses artikel dari Elsevier yang berada di luar kategori open access dan kampusmu tidak menyediakan layanan tersebut, kamu bisa menggunakan jasa di situs ini.

Artikel Sejenis

Blog

Tahap-Tahap Penerbitan Artikel di Jurnal Ilmiah

Hampir tidak ada mahasiswa maupun dosen (juga peneliti) di Indonesia hari ini yang tidak dituntut mempublikasikan hasil penelitian mereka dalam bentuk artikel di jurnal ilmiah.

Blog

Ithaka publishing: organisasi induk platform JSTOR

Tidak ada platform penelusuran jurnal internasional sekontroversial JSTOR. Meski memilih jalur damai, platform ini tetap mendapatkan sorotan publik akademik dalam kasus kematian Aaron Swartz pada

Solusi download artikel jurnal ilmiah

Kamu kesulitan download artikel ilmiah dari penerbit dan database, seperti Scopus, Science Direct, Emerald, IEEE Xplore, Springer Nature, dll.?