Springer: penerbit referensi ilmiah yang pernah ditutup Hitler

Bagikan

Jika kamu menyusuri barisan buku di rak-rak perpustakaan, hampir bisa dipastikan kamu menemukan sampul buku berlogo kuda catur (knight). Nama penerbit yang menggunakan logo ini adalah Springer.

Seperti Elsevier, Sage, dan lain-lain, Springer merupakan penerbit referensi ilmiah terkemuka di dunia. Bayangkan saja, karya Albert Einstein pernah mereka terbitkan. Tidak mengherankan, banyak kampus besar di dunia menjalin kerja sama dengan Springer.

Sejarah Springer: dari Jerman ke panggung global

Springer adalah penerbit yang telah berusia nyaris dua abad. Pada tahun 2022 yang lalu, mereka merayakan usianya yang ke-180. Ya, Springer didirikan di Jerman pada 1842 oleh Julius Springer kala ia masih berusia 25 tahun.

Era Revolusi Industri di negara tersebut mendorong Springer melirik ceruk dalam penerbitan sumber-sumber teknik dan ilmiah lainnya. Sebelum itu, mereka hanya menerbitkan karya-karya umum, semisal pamflet politik dan karya sastra.

Keterlibatan Springer di dunia penerbitan referensi ilmiah terjadi pada 1853, ketika Julius menerbitkan jurnal Zeitschrift für das Berg-, Hütten- und Salinenwesen. Melihat animo yang tinggi terhadap jurnal dalam urusan pertambangan tadi, Springer kembali meluncurkan Mathematische Annalen pada 1868.

Tampuk kepemimpinan di Springer beralih kepada anak dan cucu Julius pada akhir abad ke-19 hingga awal abad berikutnya. Pada momen inilah Springer mendapatkan perhatian global, karena menerbitkan karya-karya utama Albert Einstein dan Otto Hahn.

Kisah sukses tidak berjalan linear. Akibat perang dunia kedua dan kebijakan Nazi di Jerman, banyak karya penulis Yahudi yang diterbitkan oleh Springer dilarang beredar. Kantor pusat mereka di Berlin bahkan hancur akibat pemboman.

Titik balik: ekspansi ke New York

Kondisi Jerman yang porak-poranda akibat perang mendorong Bernhard Springer bermigrasi ke Amerika. Pada 1964, ia membuka cabang Springer di New York dengan perusahaan bernama Springer-Verlag New York Inc. Kepindahan ini sekaligus menandai peralihan Springer pada pembaca yang lebih luas dengan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama produk terbitannya.

Bendera Springer terus berkembang. Terlebih, pada 1996, penerbit ini mulai melirik teknologi internet sebagai jalur akses elektronik pada konten jurnal dan buku mereka. Bisa dikatakan, Springer merupakan salah satu pioner yang menyediakan akses ke konten digital referensi ilmiah. Yang terbaru, mereka menjalin kerjasama dengan jurnal terkemuka di bidang sains yang berbasis di Inggirs, Nature. Kerjasama ini tergambar jelas pada tampilan depan aplikasi penelusuran konten mereka, Springer-Nature Link.

Secara total, Springer mengelola lebih dari 3000 jurnal dan 300.000 buku. Bayangkan saja, hanya pada tahun 2025, Springer menerbitkan 480.000 artikel jurnal. Yang menarik, 50% di antaranya berstatus open access.

Berkat usia dan kontribusinya yang panjang, banyak sarjana yang tertatik menulis buku maupun artikel jurnal tentang sejarah dan sepak terjang Springer. Salah satunya adalah dua jilid buku berjudul Springer-Verlag: History of a Scientific Publishing House karya Heinz Götze.

Dengan konten ilmiah yang berlimpah, Springer jelas merupakan pilihan yang “bergizi” untuk kamu yang ingin menggali data maupun mencari referensi yang bermutu dalam beragam bidang ilmu pengetahuan. Sayangnya, tidak semua kampus menyediakan akses pada sumber-sumber yang disediakan oleh Springer. Tapi, jangan khawatir, untuk mengakses artikel-artikel di Springer, kamu bisa memanfaatkan Jasa Download Jurnal.

Artikel Sejenis

Blog

Tahap-Tahap Penerbitan Artikel di Jurnal Ilmiah

Hampir tidak ada mahasiswa maupun dosen (juga peneliti) di Indonesia hari ini yang tidak dituntut mempublikasikan hasil penelitian mereka dalam bentuk artikel di jurnal ilmiah.

Solusi download artikel jurnal ilmiah

Kamu kesulitan download artikel ilmiah dari penerbit dan database, seperti Scopus, Science Direct, Emerald, IEEE Xplore, Springer Nature, dll.?